Lelah Tak Sekadar Capek: Mengenali stres, Kecemasan dan Burnout.
Pengertian stres dan kecemasan
a. Definisi
stres
Stres terjadi ketika
terdapat ketidakseimbangan antara tuntutan yang dihadapi individu dengan sumber
daya yang dimiliknya. Semakin besar kesenjangan tersebut, maka tingkat stres
yang dirasakan akan semakin tinggi dan dapat menjadi ancaman bagi individu. Ini
memiliki arti bahwa stres pada tingkat tertentu dapat menjadi dorongan positif
yang membantu individu untuk berkembang. Namun, apabila tingkat stres terlalu
tinggi dan tidak mampu diatasi, maka stres dapat memberikan dampak yang
merugikan. Individu dengan stres berat cenderung lebih rentan terhadap gangguan
kesehatan, baik secara fisik maupun psikologis
The American
Institute of Stress (dalam
b. Stres
menurut para ahli
Pemahaman mengenai stres
dapat berbeda-beda tergantung pada konteksnya. Berbagai bidang ilmu memberikan
definisi yang beragam sehingga memperkaya makna dari istilah tersebut.
- Palmer
(1989) : Stres merupakan respon psikologis, fisiologis, dan perilaku yang
muncul pada individu ketika terjadi ketidakseimbangan antara tuntutan yang
dihadapi dengan kemampuan untuk memenuhinya. Apabila kondisi ini berlangsung
dalam jangka waktu tertentu, maka dapat berdampak buruk terhadap kesehatan
individu.
- Shalev,
Yehuda, dan McFarlane, (2000) : Stres merupakan respon psikologis yang wajar
terhadap berbagai peristiwa yang dapat menimbulkan perasaan terancam,
kesedihan, disforia, maupun ketidakseimbangan dalam diri individu.
- Silverman,
Heim, Nater, Marques, dan Sternberg (2010): Stres merupakan reaksi tubuh yang
menuntut adanya respons, pengaturan, dan/atau adaptasi secara fisik,
psikologis, serta emosional, yang dapat memicu munculnya perasaan frustasi,
kemarahan, kegugupan, dan kecemasan.
Sumber:
Pada dasarnya Stres dapat dipahami sebagai respons alami individu, baik secara psikologis, fisiologis, maupun perilaku, yang muncul akibat adanya ketidakseimbangan antara tuntutan yang dihadapi dengan kemampuan atau sumber daya untuk memenuhinya.
c. Definisi
Kecemasan
Kecemasan (anxiety)
merupakan bagian dari kehidupan, yang berarti bahwa kecemasan dialami oleh
setiap individu. Barlow (dalam
Pada dasarnya, kecemasan dapat dijelaskan melalui berbagai bentuk, seperti pikiran (misalnya “saya takut”), sensasi fisik atau perasaan seperti gugup, berkeringat, serta perilaku seperti menghindari situasi atau melarikan diri. Setiap individu dapat menunjukkan respons kecemasan yang berbeda-beda, baik dari segi pikiran, perasaan, maupun perilakunya.
Sigmund Freud (dalam
a. Kecemasan
realitas (reality anxiety) merupakan rasa takut terhadap ancaman yang
berasal dari luar, dengan tingkat kecemasan yang berasal dari luar, dengan
tingkat kecemasan yang sebanding dengan besarnya bahaya yang nyata.
b. Kecemasan
neurotik (neurotic anxiety) merupakan rasa takut bahwa dorongan insting
tidak dapat dikendalikan sehingga mendorong individu melakukan tindakan yang
berpotensi menimbulkan hukuman.
c. Kecemasan
moral (moral anxiety) merupakan rasa takut yang muncul dari suara hati.
Individu dengan hati nurani yang berkembang baik cenderung merasa bersalah
apabila melakukan tindakan yang bertentangan dengan nilai moral yang diyakini
atau dengan internalisasi nilai dari orang tua.
Mengapa
Stres dan Kecemasan Muncul di Tempat Kerja?
Tekanan
dan tantangan dalam pekerjaan merupakan hal yang tidak dapat dihindari. Hal ini
disebabkan oleh tuntutan di lingkungan kerja serta dari para pemangku
kepentingan yang terus berkembang seiring dengan perubahan zaman, sehingga
individu maupun organisasi dituntut untuk semakin kompetitif. Tekanan kerja
dapat diatasi jika didukung sumber daya yang memadai. Namun, jika berlebihan,
tekanan tersebut dapat menimbulkan stres yang berdampak buruk pada kesehatan
pekerja dan kinerja organisasi.
Contoh
Nyata Stres dan Kecemasan Kerja Dalam Kehidupan Karyawan
Untuk lebih memahami, berikut beberapa contoh bagaimana stres dan kecemasan kerja dapat terlihat dalam kehidupan sehari-hari:
a. Stres
Kerja
- Beban
kerja berlebihan, ditandai dengan banyaknya tugas dan
tenggat waktu yang sempit.
- Tempat
kerja yang tidak realistis, Sehingga sulit untuk dicapai dalam
waktu yang tersedia
- Jam
kerja yang panjang, seperti lembur yang berlebihan tanpa
istirahat yang cukup
- Kurangnya
dukungan dari atasan, baik dalam bentuk arahan maupun bantuan
saat menghadapi kesulitan
- Lingkungan
kerja yang kurang kondusif, misalnya adanya konflik antar rekan
kerja atau suasana kerja yang tidak nyaman.
b. Kecemasan
Kerja
- Kekhawatiran
melakukan kesalahan, yang dapat berujung pada teguran
atau penilaian negatif
- Kecemasan
menghadapi evaluasi kinerja, terutama menjelang penilaian diri
dari atasan
- Ketakutan
kehilangan pekerjaan, khususnya dalam situasi organisasi yang
tidak stabil
- Kecemasan
saat presentasi atau rapat, terutama ketika harus berbicara di
depan atasan
- Kecenderungan
overthinking terhadap pekerjaan, yaitu terus memikirkan pekerjaan
bahkan diluar jam kerja.


Comments
Post a Comment